Ada video eksperimen di youtube ketika dua monyet diperlakukan berbeda, setelah melakukan sesuatu, satu monyek diberi mentimun, satunya lagi anggur. Pertama-tama tidak ada masalah, tetapi setelah beberapa kali, monyet yang selalu diberi mentimun akhirnya marah, melempar mentimun yang diberikan dan minta diberi anggur juga.
Itu bisa menggambarkan juga manusia. Ketika seorang pekerja diberi upah yang berbeda dengan bobot kerjaan yang sama, pasti yang lain akan membandingkan lalu kecewa dengan perlakuan bosnya. Memang sudah biasa dan lumrah? Yang penting ketika membandingkan, perlu mengambil sisi positifnya.
Waktu kecil kadang iri juga melihat teman yang pintar, rajin, apalagi setelah lulus sukses. Ada dua cara memandang, ketika melihat dia yang biasa-biasa saja bisa sukses, langsung ‘down’, atau dalam istilah anak muda ‘kena mental’. Tapi bisa juga kita melihat dia yang biasa-biasa saja bisa sukses, jadi bahan introspeksi, bisa jadi dia sukses karena konsisten, tekun, dan kerja keras, sementara kita yang mungkin fasilitas lebih dari dia, tapi tidak konsisten, kurang tekun dan tidak suka kerja keras.
Masalah ‘gerah’, emosi, dan sejenisnya, itu lumrah dan bisa jadi bahan-bakar untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kembali, respon kita terhadap kondisi itu lah yang menentukan, dan respon kita itu tergantung kita, bisa memilih, mental yang jatuh atau mental yang tambah semangat. Apalagi jika rekan yang sukses itu agak ‘memanas-manasi’, jika tidak kuat, malah negatif jatuhnya, yang diisitilahkan princess Syahrini dengan istilah julit.
Kita sering mendengar istilah ‘studi banding’. Istilah ini sebenarnya juga membanding-bandingkan, tapi ketika membandingkan, kita pilih respon yang positif, dengan harapan bisa mengikuti jejak yang kita bandingkan. Bagaimana jika masih juga ‘down’?
Sebenarnya ada dua melihat orang lain, yang di atas dan yang di bawah. Terkadang kita suka fokus ke yang atas, baik dari sisi finansial, karir, kepopuleran dan lain-lain. Lihatlah kondisi terkini, perang iran-israel. Ketika Iran membom fasilitas desalinasi, alat yang merubah air laut jadi air tawar siap minum, kita sadar, negara kita yang memiliki air berlimpah, bahkan terlalu berlimpah sampai banjir, lebih baik dari timur tengah yang sulit cari air minum.
Negara seperti Singapura yang tidak ada sumber daya alam, tapi jadi negara maju, tidak serta merta membuat kita ‘down’, justru menjadi pemicu agar terus bangkit, bergerak maju, kerja keras, tekun, dan konsisten. Jadi kalau ada rekan kita yang lebih hebat, jadikan itu sebagai sarana kita agar ikut naik kelas juga. Semoga kita naik kelas selalu.
PakarPBN
A Private Blog Network (PBN) is a collection of websites that are controlled by a single individual or organization and used primarily to build backlinks to a “money site” in order to influence its ranking in search engines such as Google. The core idea behind a PBN is based on the importance of backlinks in Google’s ranking algorithm. Since Google views backlinks as signals of authority and trust, some website owners attempt to artificially create these signals through a controlled network of sites.
In a typical PBN setup, the owner acquires expired or aged domains that already have existing authority, backlinks, and history. These domains are rebuilt with new content and hosted separately, often using different IP addresses, hosting providers, themes, and ownership details to make them appear unrelated. Within the content published on these sites, links are strategically placed that point to the main website the owner wants to rank higher. By doing this, the owner attempts to pass link equity (also known as “link juice”) from the PBN sites to the target website.
The purpose of a PBN is to give the impression that the target website is naturally earning links from multiple independent sources. If done effectively, this can temporarily improve keyword rankings, increase organic visibility, and drive more traffic from search results.
Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.